Photo By Tanya Marlo
Penulis: Sinta Tiara Rini
Editor: Andriano Bobby
Belakangan, isu LGBT kembali menjadi perbincangan di ruang publik Indonesia. Salah satu yang terbaru adalah langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terhadap Hornet, sebuah platform jejaring sosial yang banyak digunakan oleh komunitas gay.
Pada 15 Agustus 2026, Komdigi meminta Apple App Store dan Google Play Store melakukan delisting terhadap Hornet dari layanan yang dapat diakses pengguna di Indonesia. Dalam keterangan resminya, Komdigi menyebut menerima aduan masyarakat mengenai keterkaitan platform tersebut dengan kampanye LGBTIQ+. Namun, pemerintah juga menegaskan bahwa persoalannya bukan hanya mengenai konten. Hornet disebut belum mendaftarkan diri sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Indonesia. Komdigi menyatakan aplikasi lain dengan layanan serupa juga akan diproses.
Terlepas dari perdebatan mengenai boleh atau tidaknya sebuah aplikasi beroperasi, fenomena ini memperlihatkan satu hal: pembicaraan mengenai LGBT masih sering berhenti pada label.
Gay. Lesbian. Biseksual. Transgender.
Padahal, sebelum memperdebatkan identitas-identitas tersebut, ada konsep yang jauh lebih mendasar untuk dipahami, yaitu SOGIESC.
Dan yang mungkin mengejutkan bagi sebagian orang adalah: SOGIESC bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh LGBT.
Menurut United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), semua manusia memiliki SOGIESC. Yang berbeda adalah bagaimana orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, serta karakteristik seks masing-masing individu terbentuk dan dialami.
Apa Itu SOGIESC?
SOGIESC merupakan singkatan dari:
Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression, and Sex Characteristics.
Dalam publikasi Frequently Asked Questions on Sexual and Gender Diversity, Health and Human Rights edisi kedua yang diterbitkan pada 2024, World Health Organization (WHO) menggunakan SOGIESC untuk membedakan empat aspek yang berbeda: orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks.
Indonesia memiliki keragaman nilai agama, budaya, sosial, dan moral. Tidak mengherankan apabila pembicaraan mengenai LGBT menimbulkan pandangan yang sangat beragam.
Keempat aspek tersebut sering tercampur dalam percakapan sehari-hari, padahal masing-masing menjelaskan hal yang berbeda.
S — Sexual Orientation: Kepada Siapa Seseorang Tertarik?
Sexual orientation atau orientasi seksual berkaitan dengan ketertarikan fisik, romantis, dan/atau seksual seseorang terhadap orang lain—atau ketiadaan ketertarikan tersebut.
WHO menjelaskan bahwa orientasi seksual dapat mencakup ketertarikan heteroseksual, homoseksual, biseksual, maupun bentuk orientasi lainnya. WHO juga menegaskan bahwa orientasi seksual berbeda dari identitas gender dan salah satunya tidak dapat begitu saja disimpulkan dari yang lain.
Artinya, heteroseksual pun merupakan orientasi seksual.
Seorang laki-laki yang tertarik kepada perempuan memiliki sexual orientation. Demikian juga perempuan yang tertarik kepada laki-laki.
Karena itu, membicarakan orientasi seksual sebenarnya tidak identik dengan membicarakan homoseksualitas.
GI — Gender Identity: Siapa Diri Seseorang dalam Pengalaman Gendernya?
Berbeda dengan orientasi seksual yang berbicara tentang kepada siapa seseorang tertarik, gender identity berbicara mengenai pengalaman internal seseorang terhadap gender dirinya.
WHO mendefinisikan gender identity sebagai pengalaman internal dan individual seseorang mengenai gender, yang dapat sesuai ataupun tidak sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir.
Seseorang yang identitas gendernya sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan ketika lahir biasa disebut cisgender.
Sedangkan istilah transgender digunakan sebagai istilah payung bagi orang yang identitas atau ekspresi gendernya tidak sesuai dengan norma dan ekspektasi yang secara tradisional diasosiasikan dengan jenis kelamin yang ditetapkan kepada mereka saat lahir.
Di sinilah salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.
Transgender bukan orientasi seksual.
Seorang transgender, sama seperti seorang cisgender, dapat memiliki orientasi seksual yang berbeda-beda.
Dengan kata lain:
Gender identity menjawab “siapa saya?”, sedangkan sexual orientation berbicara mengenai “kepada siapa saya tertarik?”
Keduanya bukan hal yang sama.
GE — Gender Expression: Bagaimana Seseorang Mengekspresikan Dirinya?
Ada pula gender expression, yaitu bagaimana seseorang menampilkan gendernya secara eksternal.
WHO menjelaskan bahwa gender expression dapat terlihat melalui cara berpakaian, berbicara, menggunakan nama atau pronoun tertentu, serta cara seseorang membawa dirinya dalam kehidupan sosial. WHO menekankan bahwa ekspresi gender berbeda dan tidak selalu berkaitan langsung dengan jenis kelamin saat lahir, identitas gender, ataupun orientasi seksual seseorang.
Ini menjadi penting karena stereotip masih sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Laki-laki yang dianggap feminin sering langsung diasumsikan gay.
Perempuan dengan penampilan maskulin sering langsung dianggap lesbian.
Padahal tidak sesederhana itu.
Cara berpakaian, gaya rambut, intonasi suara, gestur, pekerjaan, hobi, ataupun cara seseorang menampilkan dirinya tidak otomatis menunjukkan orientasi seksualnya.
Dengan kata lain:
Bagaimana seseorang terlihat tidak selalu memberi tahu kita kepada siapa ia tertarik.
SC — Sex Characteristics: Karakteristik Biologis Tubuh
Sementara itu, sex characteristics atau karakteristik seks berbicara mengenai karakteristik fisik atau biologis tubuh.
Menurut WHO, karakteristik seks primer mencakup antara lain gonad seperti testis atau ovarium, genitalia, serta hormon. Karakteristik seks sekunder berkembang kemudian, terutama menjelang dan sesudah pubertas, seperti perkembangan payudara, menstruasi, pertumbuhan rambut tubuh, maupun perubahan suara.
WHO juga menjelaskan bahwa terdapat variasi alami karakteristik seks yang dikenal dengan istilah interseks.
Interseks merupakan istilah payung bagi individu yang lahir dengan variasi karakteristik biologis atau fisiologis—misalnya anatomi seksual, organ reproduksi, ataupun pola kromosom—yang tidak sepenuhnya sesuai dengan definisi tradisional tubuh laki-laki atau perempuan.
Sekali lagi, ini berbeda dengan orientasi seksual maupun identitas gender.
Interseks berbicara mengenai karakteristik biologis tubuh, bukan mengenai kepada siapa seseorang tertarik.
Lalu, Apakah SOGIESC Sama dengan LGBT?
Tidak.
Inilah bagian yang sering disalahpahami.
LGBT merupakan akronim yang digunakan untuk menyebut identitas atau kelompok tertentu: lesbian, gay, bisexual, dan transgender.
Sementara SOGIESC merupakan kerangka yang membedakan berbagai dimensi mengenai seksualitas, gender, ekspresi, dan karakteristik seks manusia.
Bahkan UNHCR secara eksplisit menyatakan:
“All people have SOGIESC.”
Semua orang memiliki SOGIESC.
Orang heteroseksual memiliki sexual orientation.
Orang cisgender memiliki gender identity.
Setiap orang menampilkan gender expression dalam bentuk tertentu.
Dan setiap manusia memiliki sex characteristics.
Maka ketika seseorang belajar mengenai SOGIESC, ia sebenarnya bukan semata-mata sedang mempelajari “LGBT”.
Ia sedang mempelajari dimensi seksualitas dan gender yang terdapat pada manusia.
WHO sendiri menjelaskan bahwa seksualitas merupakan bagian sentral dalam kehidupan manusia dan mencakup antara lain seks, identitas dan peran gender, orientasi seksual, erotisme, kenikmatan, intimasi, serta reproduksi. Seksualitas juga dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum, sejarah, agama, dan spiritual.
Mengapa Kita Perlu Memahami SOGIESC?
Karena ketidaktahuan dapat melahirkan kesimpulan yang keliru.
Ketika sexual orientation, gender identity, gender expression, dan sex characteristics dicampur menjadi satu, kita kemudian mudah berpikir bahwa:
laki-laki feminin pasti gay;
perempuan maskulin pasti lesbian;
transgender adalah orientasi seksual;
atau interseks sama dengan transgender.
Padahal secara konseptual semuanya berbeda.
Literasi ini juga mempunyai implikasi terhadap kesehatan.
WHO menyebut stigma dan diskriminasi dapat menjadi penghalang bagi kelompok LGBTIQ+ untuk mengakses tenaga dan pelayanan kesehatan. Hambatan tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental dan, dalam konteks tertentu, termasuk akses terhadap layanan HIV dan infeksi menular seksual.
Karena itu, memahami terminologi bukan sekadar persoalan menggunakan istilah yang “politically correct”.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, memahami kepada siapa pelayanan diberikan dan persoalan apa yang dihadapi merupakan bagian penting dalam menyediakan informasi serta pelayanan kesehatan yang tepat.
Memahami Tidak Berarti Harus Memiliki Pandangan yang Sama
Indonesia memiliki keragaman nilai agama, budaya, sosial, dan moral. Tidak mengherankan apabila pembicaraan mengenai LGBT menimbulkan pandangan yang sangat beragam.
Namun, memahami sebuah konsep berbeda dengan menyetujui seluruh pandangan yang berkaitan dengannya.
Seseorang tetap dapat memiliki nilai agama, moral, dan keyakinannya sendiri sembari memahami bahwa orientasi seksual berbeda dari identitas gender; identitas gender berbeda dari ekspresi gender; dan ketiganya berbeda pula dari karakteristik seks.
Pengetahuan tidak mengharuskan semua orang memiliki pendapat yang sama.
Tetapi pengetahuan memungkinkan sebuah percakapan dimulai dari fakta yang sama.
Di tengah perdebatan mengenai LGBT yang kembali ramai, mungkin pertanyaan pertama kita seharusnya bukan:
“Apakah kamu mendukung atau menolak LGBT?”
Melainkan:
“Apakah kita sudah benar-benar memahami apa yang sedang kita bicarakan?”
Sebab sebelum memberikan label kepada manusia lain, setidaknya kita perlu memahami terlebih dahulu apa arti label-label tersebut.
Sumber Rujukan
- World Health Organization (WHO). Frequently Asked Questions on Sexual and Gender Diversity, Health and Human Rights: An Introduction to Key Concepts, Second Edition. Geneva: WHO, 2024.
- World Health Organization (WHO). Gender and Health.
- World Health Organization (WHO). Improving LGBTIQ+ Health and Well-being with Consideration for SOGIESC.
- World Health Organization (WHO). Sexual Health.
- United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Master Glossary of Terms – SOGIESC.
- UNHCR. Protecting Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex and Queer (LGBTIQ+) Persons.
- Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Komdigi Tindak Hornet, Minta Aplikasi Dihapus dari App Store dan Play Store, 15 Agustus 2026.
